Minggu, 08 Maret 2015

Insha Allah, nothing is impossible

Udah hampir 4 minggu perkuliahan S2 saya jalani. Nggak ada yang istimewa apalagi beberapa minggu ke depan UTS war sudah mulai dilaksanakan. Kecuali 2 hari lagi merupakan hari pengumuman beasiswa LPDP saya sih.

Sejujurnya, saya tidak memiliki ekspektasi yang tinggi, tapi tetap berkeyakinan bahwa nothing is impossible. Saya udah cerita belum pendaftar LPDP yang lainnya pada daftar  dimana? Pendaftar-pendaftar lainnya kebanyakan mereka udah bawa LOA (Letter of Acceptance) dari Universitas pilihannya dan intake September (sesuai dengan aturan LPDP). Dan kampusnya dimana? Taiwan University, Leicester University, Manchester University, Southampton University, Edinburgh University, dan Universitas lainnya... sangat jarang saya menemui yang hanya mau daftar di dalam Negeri. bikin minder? sedikit, tapi keyakinan saya dan optimisme bahwa Universitas dalam negeri tidak akan kalah kualitas dengan Universitas luar negeri sama sekali tidak berkurang.

Saya, bukannya saya bernyali ciut atau tidak bersyukur karena saya pada kenyataannya sudah jadi mahasiswa Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam di UI. Tapi, sudah diterima jadi mahasiswa di UI tidak memiliki impact apapun terhadap kemulusan seleksi LPDP.

Ketika verifikasi dokumen syarat LPDP, posisi saya sudah kuliah satu minggu di KTTI. Rule baru dari LPDP, pendaftar yang diterima adalah pendaftar yang masuknya mulai Juni 2015. Saya yang sudah bawa senjata LOA dari UI mengurungkan niat saya untuk menunjukkan LOA itu karena aturan baru itu jelas menolak saya. kakak penyeleksi administrasi juga mengatakan bahwa LOA itu tidak berguna karena yang diterima adalah pendaftar yang baru masuk minimal Juni 2015, jadi intinya kalau nanti saya diterima LPDP, saya harus daftar S2 lagi ngulang dari awal. 

Pada akhirnya saya mengikuti Wawancara hanya bermodal doa, nekat, dan restu orang tua. Tanpa menunjukkan LOA dari UI yang proses bikinnya memakan emosi mba Herlin, karena saya memaksa LOA itu harus jadi dalam 4 hari, padahal LOA normalnya jadi dalam seminggu.

Semacam Deja Bu waktu saya mendaftar SMASA Jember dulu. saya mendaftar hanya dengan modal NEM 27,27 (dari 30) dan skor tes masuk SMASA Jember. Nem 27,27 buat masuk SMASA Jember merupakan angka yang kecil. Karena saya waktu itu daftar dari luar Kabupaten (SMP saya di Banyuwangi), jelas secara lokasi saya kalah prioritas. sedihnya lagi, satu sertifikat yang saya harapkan bisa jadi nilai tambah untuk masuk SMASA Jember juga tidak terpakai karena hanya sertifikat tingkat Kabupaten (bagi pendaftar luar Kabupaten Jember, sertifikat yang diminta adalah sertifikat minimal setingkat Provinsi).

NEM 27,27 + luar Kabupaten + tanpa sertifikat apapun!

Hasilnya? Saya ALHAMDULILLAH masih diterima di SMASA Jember, tapi secara peringkat saya berada di peringkat 10 besar DARI BAWAH. Berbeda sekali dengan peringkat siswa baru dari SMASA Genteng (SMA ter-favorit di Banyuwangi kala itu) yang menempatkan saya di posisi 40 besar.

Lol.

Udahlah dasarnya saya bandel, yang saya masuki adalah SMASA Jember, pura-pura lupa bahwa bisa dikatakan saya adalah satu diantara 10 siswa paling bodo yang masuk SMASA Jember. saya meninggalkan Banyuwangi yang menerima saya dengan tangan terbuka dan memasukkan saya dalam barisan 40 siswa cemerlang se-Kabupaten.

Apakah saya menyesali keputusan sekolah di SMASA Jember sampai saat ini? NOT. Not at all. Know what? Kalau orang bilangnya, lebih baik jadi orang bodoh diantara orang pintar daripada jadi orang pintar diantara orang bodoh. Saya tidak mengatakan SMASA Genteng adalah sekolah jelek karena pada kenyataannya mereka memang tidak, tapi, jadi siswa di sekolah paling favorit di Kabupaten tetangga itu jauh lebih menantang adrenalin daripada jadi siswa di sekolah paling favorit di Kabupaten sendiri. semua yang saya terima dan jalani di SMASA Jember lebih memberi saya pelajaran di setiap aspek kehidupan saya, karena basically, saya benar-benar memulai hidup saya dari awal disana TANPA berada di zona nyaman saya. tinggal dengan mayoritas orang Jawa-Madura yang bahasanya lebih kasar dari bahasa saya, tidak memiliki satu teman pun yang saya kenal, tidak tinggal di rumah (it explains everything, right?), dan yang jelas, saya tidak berada di zona nyaman saya sejak umur 15 tahun. 15 tahun.

Saya ingat betul ketika saya menunggu hari-hari pengumuman penerimaan siswa baru SMANSA Jember: di satu sisi saya merasa sedih karena benar-benar MAU jadi siswa SMASA yang mana harapannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin, di satu sisi lainnya saya sudah lega karena saya sudah pasti diterima di SMASA Genteng, dengan SPP nyaris nol rupiah, dan sekolah paling favorit di Kabupaten saya.

Dan sekarang, saya sedang berada di posisi yang sama dengan keadaan di 7 tahun yang lalu itu. Di satu sisi saya merasa sedih karena benar-benar MAU jadi bagian mahasiswa yang memperoleh beasiswa LPDP (that so called very prestigious scholarship) yang mana harapannya sangat kecil dan hampir tidak mungkin, di satu sisi lainnya saya sudah lega karena saya sudah kuliah di KTTI UI (that so called prestigious university) yang memang saya mau, tapi sangat membebani anggaran rumah tangga orang tua saya.

tapi saya berusaha untuk tetap bisa menerima apapun hasilnya nanti...

And this, is my pray now:

Ya Allah, the knower of the Unseen. O Allah, if You know this affair to be good for me in relation to my religion, my life and aftermath, my present and future, then decree it and facilitate it for me, and bless me with it, and if You know this affair to be ill for me concerning my religion, my life and end, my present and future, then remove it from me and remove me from it, and decree for me what is good, whatever it may be, and make me satisfied with it. (citation this)

Seperti yang terlihat, saya sangat menginginkan LPDP lebih dari segalanya sekarang, and I still hope for the best (dibaca: ketrima LPDP)... and...

“When you want something this badly, you don't just give up. You fight and fight until you absolutely can't fight anymore.” – Gail McHugh


Dan kalaupun ternyata saya tidak diterima LPDP, apa mau dikata? Saya tahu saya berusaha semaksimal mungkin, saya tahu apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik untuk saya. because, I believe that Allah has a bigger plan for me than I have for myself, and because of this of course:


Saya tidak akan pernah bersedih pun ketika saya tidak diterima LPDP nanti misalnya, karena sewaktu ikut seleksi administrasi kemarin saya melihat sendiri teman-teman sesama pendaftar LPDP semua memiliki kelebihan masing-masing, hampir tidak ada yang tidak berkompeten untuk menerima beasiswa. Istilahnya, nggak ketrima LPDP, mereka pasti seenggaknya dapat beasiswa minimal setara PPA (beasiswa dari kampus buat mahasiswa S1 yang berprestasi). So, I’d like to say without any hesitant, what my Taylor Swift ever said, that: even if it ends badly, it’s worth it.



Ketika saya menulis post sebelum ini, ini lebih tepatnya jakarta oh jakarta, di paling bawah saya bernazar bahwa saya akan memberi tips kepada siapapun yang mau daftar  LPDP ‘kalau saya diterima’. Entah kenapa saya kemudian merasa saya pelit banget, mau berbuat baik kok nunggu dapet sesuatu yang bagus dulu. Jadi, saya memutuskan untuk memberi info apapun kepada tuan-tuan dan puan-puan sekalian yang ingin mendaftar LPDP, tapi hanya sebatas sampai tahap lolos administrasi saja ya (karena kan saya belum tau hasil wawancara dan LGD lolos atau tidak). Saran saya buat lolos administrasi sih sangat simpel ya: lengkapi semua berkas yang diminta sebagai syarat tanpa dikurangi atau dilebihi. Essay dibagusin, yang nyeritain kegiatan kamu waktu S1 bahkan bisa dimulai dari TK kalau menurut kamu pengalaman itu sangat berharga. Study plan diperjelas, kalau perlu dan kalau tahu, kalau bisa dicari tahu, kasih nama dosen-dosen yang menurutmu kompeten dan bisa memaksimalkan riset kamu nantinya waktu S2. Pokoknya masukin semua prestasi dan hal yang membuat diri kamu sekarang jadi begini, dengan jujur dan apa adanya. Tidak berlebihan.

Saran berikutnya dan yang paling penting, jangan nyoba buat mendaftarkan berkas kamu yang nilai TOEFL-nya masih di bawah 500. Karena, menurut panitia, kalau berkasnya tidak memenuhi syarat yang diminta meskipun hanya satu (misalnya semua persyaratan udah betul dan lengkap tapi TOEFL masih 490), maka langsung digugurin dan tidak diproses ke tahap selanjutnya. Tanpa ampun, no mercy. Boleh dibilang nih, bukannya narsis, lolos seleksi administrasi LPDP itu aja, kerennya udah banget-banget.

Semangat ya buat yang mau daftar LPDP. Bismillah, semoga kalian bisa lolos. Dan percayalah: Nothing is impossible!